Senin, 04 April 2011

Posisi Islam Di Antara Agama-Agama Di Dunia (kritik terhadap buku Study Islam, karya Abuddin Nata)

Menurut Abuddin Nata pada hal. 122 beliau mengatakan “Islam bukan saja agama yang terakhir melainkan agama yang melingkupi segala-galanya dan mencakup sekalian agama yang datang sebelumnya. Mengenai posisi Islam terhadap agama sebelumnya dapat dikemukakan sbagai berikut:”
1. Orang Islam adalah orang yang beriman kepada para Nabi dan kitab suci dari semua bangsa. Orang yahudi hanya beriman kepada para Nabi bangsa Israel orang Kristen hanya percaya kepada Yesus Kristus, orang Budha hanya percaya kepada sang Budha, orang Majusi hanya percaya kepada Zarausta, orang hindu hanya pecaya kepada para Nabi yang timbul di India, orang Kong Hu Cu hanya percaya kepada Kong Hu Cu, tetapi orang Islam percaya kepada semua Nabi. Oleh karena itu, Islam adalah agama yang meliputi semuanya, yang mencakup segala agama di dunia. Demikian pula kitab sucinya, yaitu al-qur’an adalah gabungan dari semua kitab suci di dunia
2. Posisi Islam di antara agama lainnya diantaranya dilihat dari peran yang dimainkannya adalah;
a. Mendatangkan perdamaian dunia dengan membentuk persaudaraan di antara sekalian agama di dunia
b. Menghimpun segala kebenaran yang termuat dalam agama yang telah ada sebelumnya
3. Dilihat dari adanya unsur pembaruan di dalamnya, dengan datang Islam, agama memperoleh arti yang baru dengan ditandainya, agama tidak boleh dianggap sebagai dogma yang harus diperlakukan sebagai ilmu yang didasarkan atas pengalaman universal umat manusia.
4. Hubungan Islam dengan agama lain dapat dilihat pada ajaran moral, sebagaimana yang diajarkan pada agama lain, misalnya;
a. Dalam agama Hindu terdapat ajaran bahwa menganggap keinginan terhadap kesenangan adalah fitrah manusia terdapat larangan untuk membunuh,
b. Dalam agama Budha terdapat larangan untuk membunuh, mencuri, berdusta, memperturutkan hawa nafsu dan minum yang memabukkan
c. Dalam kristen dijumpai pula ajaran tentang berbuat baik yang bertolak pada pengendalian diri
Ajaran dalam agama tersebut, senada dengan Islam, al-qur’an mengingatkan pada umat islam agar tidak memperturutkan hawa nafsunya, sebagai firman Allah:
             •     
    
Katakanlah: "Sesungguhnya Aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah". Katakanlah: "Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah Aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) Aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk".(q.s. al-an’am: 65)

Tanggapan
Islam adalah agama penyempurna bagi agama sebelumnya, namun perlu digaris bawahi, agama-agama yang dimaksud adalah agama yang diturunkan oleh Allah dan disampaikan melalui rasul serta nabi-Nya, bukan penyempurna bagi agama hasil dari produk budaya suatu bangsa tertentu seperti, seperti hindu, budha, kristen dan yahudi ekarang ini.
Dalam kitab tauhid jilid dua dijelaskan bahwa, maksud dari beriman kepada seluruh Rasul adalah membenarkan dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah mengutus Rasul pada setiap umat untuk mengajak beribadah kepada Allah tanpa menyekutukanya dan memerintahkan untuk kufur kepada sesembahan selain-Nya, kita wajib beriman kepada para Nabi dan Rasul secara umum, nabi yang kita ketahui maupun tidak, adapun kita mengimani mereka secara khusus, sebagaimana yang disebutkan dalam al-qur’an lebih dari 20 nama rasul yaitu; Nuh, Idris,Shalih, Ibrahim, Hud, Luth, dsb. sebagimana firman-Nya:
      •    •    
Dan Sesungguhnya Telah kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak kami ceritakan kepadamu. (q.s al-mu’min: 78)
Jadi jelas dalam Islam,tidak mengimani Nabi dan Rasul selain yang telah disebutkan dalam al-qur’an dan misi dari para nabi adalah menyampaikan risalah Allah serta tidak untuk menyekutukan-Nya.
Adapun mengenai beriman kepada kitab-kitab Allah adalah merupakan salah satu rukun iman maksudnya yaitu membenarkan dengan penuh keyakinan bahwa Allah swt mempunyai kitab-kitab yang diturunkan kepada hamba-hamba-Nya dengan kebenaran yang nyata dan petunjuk yang jelas. Beriman kepadanya adalah wajib, baik mengimaninya secara ijmal maupun tafshil (terperinci).
Dalil mengenai iman secara global adalah firman allah:
Rasul Telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, Demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat." (mereka berdoa): "Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." (Q.s al-baqarah: 285).
Adapun secara terperinci adalah mengimani kitab-kitab yang sudah disebutkan namanya oleh Allah, yakni al-qur’an dan kitab lain seperti:
a. Shuhuf Ibrahim dan Musa
b. Taurat yang diturunkan kepada Musa as
c. Zabur yang diturunkan kepada Nabi Dawud
d. Injil yang diturunkan kepada Isa as
Dan kesemuanya Nabi tersebut mengajak umatnnnya kepada pengesaan Allah. Semua kitab sama dalam masalah ushul, sekalipun berlainan dalam syariatnya. Kitab taurat sekarang yang ada bukanlah sebagaimana taurat yang dahulu diturunkan kepada nabi Musa, begitu juga dengan injil. Jadi keduanya bukanlah kedua kitab yang diperintahkan untuk mengimaninya secara rinci. Kedua kitab tersebut telah dinaskh dan digantikan dengan al-qur’an.
Adapun mengenai persaudaraan dalam Islam tidak terdapat adanya ikatan persaudraan, kecuali mereka dalam keimanan, sebagaimana firman Allah dalam al-hujrat ayat ke10:
       •    
Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (q.s. al-hujrat: 10)

No. 2 Dan sikap kita terhadap non muslim dalam masalah ushul (aqidah) adalah bersikap keras dan tidak ada sikap persaudaraan, namun kepada orang yang beriman bersikap lemah lembut
          
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.( Q.s al-fath: 29)
Adapun mengenai masalah muammalah, kita tetap menjaga hubungan dengan mereka karena hakikatnya kita adalah makhluk sosial, sebagaimana Rasulullah pernah menggadaikan baju besinya kepada seorang Yahudi.
Islam tidak hanya sekedar menghimpun dari agama allah terdahulu, akan tetapi juga mnyempurnakannya
No.3 Islam adalah ad-din yang diturunkan Allah. Islam mengandung nilai penyerahan diri, ketundukan dan kepatuhan yang nyata pada Allah swt dan hal tersebut akan membawa ketenangan dlam jiwa seseorang. Adapun dogma adalah pokok ajaran yang harus diterima dan diyakini kebenarannya yang merupakan suatu pasal kepercayaan dari gereja Kristen dan dengan adanya Islam sebagai agama yang sesuai dengan fitrah manusia dan bukanlah suatu dogma, maka jika Nata mengatakan bahwa agama membawa perubahan baru maka seharusnya pemeluk agama lain berbondong-bondong masuk ke dalam Islam, karena hanya Islamlah agama pembebasan, yang membebaskan peribadatan hamba kepada hamba menuju peribadatan hamba menuju Pencipta hamba.
No.4 jika terdapat kesamaan nilai-nilai antar Islam dengan yang lainnya, bukan berarti Islam membenarkan ajaran agama lain, agama yang benar dan akan diterima disisi Allah adalah Islam, walaupun agama lain mengajarkan kebaikan dan itu selaras dengan Islam, maka mereka akan tertolak, karena mereka tidak membawa kunci keselamatan pada diri mereka, yaitu syahadat
Bab 9 Metodologi Pemahaman Islam
Muhammad. Hadiid

Abuddin mengatakan dalam bukunya pada hal. 150; “dengan demikian secara sederhana dapat ditemukan bahwa dilihat dari segi normatif, sebagaimana yang terdapat dalam al-qur’an dan hadits, maka Islam lebih merupakan agama yang tidak dapat diberlakukan kepadanya paradigma ilmu pengetahuan, yaitu ilmu paradigma analitis, kritis metodologis, historis dan empiris, sedangkan jika dilihat dari aspek historis, yakni dalam arti yang dipraktikan oleh manusia yang berembang dalam sejarah kehidupan manusia”.
Ketika Islam dilihat dari sudut normatif, islam merupakan agama yang di dalamnya berisi ajaran Tuhan yang berkaitan dengan urusan akidah muammalah, sedangkan ketika dilihat dari sudut historis atau yang tampak dari masyarakat, Islam tampil sebgai sebuah disiplin ilmu
Selanjutnya Abuddin mengatakan bahwa untuk memahami Islam, beliau mengemukakan beberapa pendapat tokoh, diantaranya:
1. Menurut Ali Syariati, untuk memehi islam melalui pendekatan
a. Pendekatan komparasi, yaitu mengenal Allah dengan membandingkan sesembahan lainnya
b. Pendekatan aliran, yaitu: bahwa tugas intelektual hari ini adalah mempelajari dan memahami islam sebagai aliran pemikiran yang membangkitkan kehidupan manusia
2. Nasrudin Razak:
a. Sumber asli
b. Menyeluruh
c. Ulama
d. Normatif teologis, kemudian dengan kenyataan historis, empiris dan sosiologis
3. Mukti Ali:
a. Untuk melihat islam sebagai agama, maka melalui doktrin
b. Adapun untuk sebagai ilmu, menggunakan metode ilmiah, yang ciri-cirinya rasional, empiris, objektif
c. Dengan sintesis
Tanggapan
Dalam islam, tidak mengenal istilah dualisme, Islam adalah wahyu yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya untuk disampaikan kepada segenap umat manusia sepanjang masa dan persada
Islam juga suatu sistem keyakinan dan tata ketentuan Illahi yang mengatur segala pri kehidupan dan penghidupan manusia dalam pelbagai hubungan, baik hubungan manusia dengan tuhan-Nya maupun dengan manusia ataupun dengan alam lainnya. Pada garis besarnya Islam terdiri atas aqidah, syariah (yang meliputi ibadah dalam arti khas dan muammalah dalam arti luas) dan akhlak
Islam (al-qur’an) lebih banyak dapat dihayati (difahami, diselami dan didalami) oleh manusia dikarenakan Islam banyak berbicara tentang ilmu pengetahuan luas dan dalam. Bagi seorang natural scientist al-qur’an merupakan Buku besar tentang alam. Bagi seorang social dan cultural scientist, maka al-qur’an merupakan Buku besar tentang mansusia. Bagi serangn teolog, al-qur’an ini merupakan buku tentang Tuhan dan Ketuhanan. Al-qur’an merupakan buku mengenai pelbagai masalah asasi yang menjadi bahan perbincangan ilmu dari masa kemasa.
Adapun untuk memahami Islam, banyak ulama salaf ash-shalih mengatakan melalui al-qur’an, sunnah dan pemahaman salaf ummah terhadap din ini, karena merekalah generasi terbaik umat ini.





































Bab 10 Telaah “Konstruksi Teori” Penelitian Agama
Muhammad Hadiid

Abuddin mengatakan pada hal. 172, bahwa yang dimaksud dengan Konstruksi Teori” Penelitian Agama adalah suatu upaya memeriksa, mempelajari, meramalkan dan memahami secara seksama dasar-dasar, hukum serta ketentuan lainnya yang diperlukan utnuk melakukan penelitian terhadap bentuk pelaksanaan ajaran agama sebagai dasar pertimbangan untuk mengembangkan ajaran agama agar sesuai dengan tuntutan zaman.
Penelitian terhadap agama amat mungkin dilakukan, karena disamping agama itu banyak aspek yang dapat dikaji dan dengan penguasaan yang baik dan memadai tentang langkah-langkah pokok-pokok penyusunan draft penelitian dan pengkajian islam yang di dalamnya memuat latar belakang masalah, studi kepustakaan, landasan teori, metodologi penelitian dan kerangka analisis serta berbagai pendekatan seseorang akan memiliki kemandirian untuk menggali dan mengembangkan ajaran islam secara komprehensif, holistic, integrated, konstektual, aktual, komunikatif, dengan berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat.
Tanggapan
Pada dasarnya, pokok ajaran agama (Islam) telah sempurna dan relevan hingga akhir zaman nanti, dan ajaranya tidak akan luntur dengan termakannya waktu, Islam tidak akan pernah takut untuk mengahadapi suatu zaman yang berbeda kelak, karena itu merupakan sunnatullah, suatu kepastian yang pasti akan terjadi. Islam adalah solusi pada berbagai zaman.
Umat Islam hanya dapat maju dan dan kuat jika mengamalkan ajaran-ajaran yang terdapat dalam qur’an dan sunnah, sebagaimana para generasi terdahulu bagaimana mereka memahami serta mengamalkan Islam
Dalam mengemukakan teori penelitian agama, seorang pakar haruslah jelas, agar tidak menimbulkan kerancuan, mengutip pernyataan Taufik Abdullah dalam bukunya Metologi Penelitian Agama, beliau mengatakan “penelitian agama memang berbeda dengan penelitian ilmu-ilmu sosial pada umumnya. Perbedaan ini terletak pada medan, tujuan, dan pendekatan”.
Medan penelitian agama mencakup tiga lapangan, yaitu:
1. Memahami dan mengkaji kitab-kitab yang merupakan sumber baku dari agama
2. Mengkaji hasil ijtihad para ulama yang merupakan sumber dinamika dalam pengembangan ajaran agama
3. Oleh para ahli ilmu sosial disebut dengan fenomena keagaamaan
Mengenai tujuan dari penelitian agama adalah untuk mengembangkan pemahaman dan membudayakan pengamalan agama sesuai dengan tingkat perkembangan peradaban umat manusia
Adapun apabila dilihat dari sudut pendekatan, penelitian agama menggunakan dari sudut pengembangan dan kehidupan umat beragama.
Wallahu ‘alam bish-shawab

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar